Afsel, Negara Kaya Kultur dan Budaya
Republik Afsel adalah sebuah negara di Afrika bagian Selatan. Dikenal sebagai penghasil emas, berlian dan platina besar didunia, dengan luas 1.219.912 km2. Afsel bertetangga dengan Namibia dan Zimbabwe di Utara, Mozambik dan Swaziland di Timur Laut. Keseluruhan negara Lesotho terletak di pedalaman Afsel. Negara tersebut berpopulasi lebih dari 47 juta orang, yang tersebar di 9 Provinsi. Yaitu Provinsi Eastern Cape, Free State, Gauteng, KwaZulu-Natal, Limpopo ,Mpumalanga, the Northen Cape, North West dan Western Cape.
Pada tempo dulu, pemerintahan negara ini dikecam karena politik apartheid, tetapi sekarang Afsel adalah sebuah negara demokratis dengan penduduk kulit putih terbesar di benua Afrika. Pemimpin negara adalah seorang presiden. Afsel merupakan negara demokrasi konstitusional dengan sistem tiga tingkat dan institusi kehakiman yang bebas. Negara ini memiliki 3 ibukota yaitu Capetown(legislatif), Pretoria(administratif), dan Bloemfontein (kehakiman). Terdapat tiga peringkat yaitu Nasional, wilayah dan Pemerintahan lokal yang mempunyai badan legislatif serta eksekutif dengan daerah kekuasaan masing-masing. Presiden Afsel memegang 2 jabatan yaitu sebagai kepala negara dan juga kepala pemerintahan.
Afsel kaya dengan keindahan alam, termasuk bukit-bukit, garis pantai menawan, gunung, danau, serta kawasan-kawasan belanja. Terdapat taman terkenal disana, yaitu Krunger National Park dan 4 situs alama UNESCO World Heritage. Negara ini sangat kaya ragam dan budaya dan mempunyai 11 bahasa resmi. Disamping itu, masyarakat di sana sangat fanatik terhadap olahraga, terutama Rugby, Kriket, Golf, Renang, Atletik dan tentu saja Sepak Bola. Sepak Bola kadang disebut juga sebagai Soccer oleh penduduk setempat.
Dari segi makanan, bistik atau sosis boerewors, sayur rebus dan chips(kentang goreng) adalah makanan utama. Makanan disini mengarah lebih kepada daging. Makanan kaum Afrika jarang dijual di restoran-restoran, walaupun orang-orang dapat mendapatkan nasi yang murah serta “stew” dari gerai-gerai di perkotaan.
Tambahan: Kota terbesar:Johannesburg, Pemerintahan:Republik Presidensial, Presiden: Jacob Zuma, Kemerdekaan dari Britania Raya:Dominion:31 Mei 1910, Republik:31 Mei 1961, Mata Uang:Rand, Zona Waktu: (UTC+2), Domain internet:za, Kode Telepon: 27
Sumber:fifa.com, wikipedia.org
Dikutip dari Solopos edisi 4/3 2010
11 Bahasa di Afsel
Afsel terkenal kaya bahasa. Tercatat ada 11 bahasa resmi, termasuk bahasa Inggris yang dipergunakan negara penghasil emas dan platina tersebut. Bahasa resmi di Afsel yang dimaksud adalah Inggris,Ndebele(isiNdebele), Sotho Utara(Sesotho saLeboa), Sotho(seSotho), Swati(siSwati), Tsonga(Xitsonga), Tswana(SeTswana), Venda(TshiVenda), Xhosa(isiXhosa) dan Zulu(isiZulu). Di beberapa wilayah ada juga pemakai bahasa Khoi,Nama dan San. Kebanyakan digunakan oleh para leluhur yang mendiami wilayah bagian selatan. Bahasa Khoi dikabarkan sudah tidak dipakai lagi alias Punah pada awal abad ke-20, tetapi masih dipakai pada seragam tentara Afsel yang punya arti”beragam orang bersatu”.
Zulu adalah bahasa yang paling banyak dipakai di kota-kota besar, begitu juga bahasa Inggris. Afsel jugabanyak dihuni orang-orang yang bercakap-cakap dengan bahasa Jerman Portugal, Yunani dan Italia. Seluruh dokumen resmi Negara ditulis dengan bahasa Inggris, begitu juga tanda penunjuk jalan, hotel, kantor pemerintahan dan bank. Pengaruh banyaknya bahasa di Afsel sebagai hasil silang bahasa yag berbeda yang digunakan dalam percakapan.
Sumber:fifa.com
Dikutip dari Solopos edisi 5/3 2010
Laduma, teriakan gol ala Afsel
Penduduk Afsel punya ungkapan khas dalam merayakan gol. Jika hampir seluruh orang di dunia mengatakan ‘gol’ maka mereka berteriak ‘LADUMA’. Kata tersebut berasal dari bahasa Zulu yang bisa diartikan ‘ini bergemuruh’ yang menggambarkan keramaian saat tercipta gol. Istilah itu kali pertama dipopulerkan komentator telivisi Zama Masondo, ketika mengomentari sebuah gol. Penonton di Stadion juga kerap menyanyikan ‘Shoshozola’, yang menjadi chant terkemuka disana. Itu semacam nyanyian penyemangat yang aslinya dipakai para imigran yang berpergian dari Zimbabwe menuju Afsel. Dalam bahasa Zulu, Shosozola mempunyai arti ‘majulah’.
Bernyanyi saja dianggap tidak cukup oleh suporter sepak bola Afsel. Mereka sengaja memperbesar volume dengan memakai bantuan Vuvuzelas. Untuk memuja pemain favorit, suporter Afsel punya cara inovatif. Antara lain dengan mengangkat ikan segar untuk menghormati dedikasi Mark Fish dan mengalungkan sepatu tua di leher sebagai selebrasi buat John ‘Shoes’ Moshoeu. Lucas Radebe juga sering dinyanyikan dengan lagu singkat ‘Roo’, yang merupakan nama panggilannya.
Sumber:fifa.com
Dikutip dari Solopos 6/3 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s